Tuesday, January 13, 2015

Prinsip Pengobatan


Prinsip agama adalah tengah-tengah ( tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak) sama halnya  dalam memahami prinsip menejemen kesehatan. “Berlebih-lebihan” merupakan hal yang harus diwaspadai dalam segala aspek, walaupun hal tersebut kelihatan baik. Dalam kepentingan kesehatan, Rasulullah mengajarkan agar kita tidak berlebih – lebihan , salah satunya terlihat dari soal perilaku makan beliau.  Rosulullah menasihatkan agar makan jika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Lambung kita sebaiknya dibagi 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk air dan 1/3 nya untuk udara.

Dari Abu Karimah Al Miqdam ibnu Ma’di Karib ra berkata, saya mendengar Rosulullah SAW bersabda”Tiada seorang anak adam yang mengisi penuh suatu wadah yang lebih buruk (berbahaya) daripada (mengisi penuh ) daripada perutnya sendiri. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan punggungnya. Jika memang lebih dari itu maka 1/3 untuk makanannya, 1/3 untuk minumannya, 1/3 untuk nafasnya.” HR Tirmidzi

“Keseimbangan” sesuatu yang menjadi faktor urgen dalam menjaga kesehatan baik fisik, mental maupun spiritual. Maksud “ keseimbangan” disini  adalah mencukupkan pemenuhan kebutuhan tubuh sehingga tidak kekurangan tetapi juga tidak berlebihan dalam segala aspek sehingga keseimbangan mekanisme dalam tubuh (equilibrium milieu interna ) dapat senantiasa terjaga.

Dalam menghitung kebutuhan yang “seimbang” biasanya dibuat stadarisasi tertentu yang mewakili mayoritas orang. Tetapi tetap tidak akan bisa itu berlaku mutlak, karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu contoh misalnya seseorang dikatakan normal tekanan darahnya kalau 120/80 mmHg. Namun   ternyata beberapa  orang tertentu merasakan tekanan darah sebesar itu justru  terasa  pusing, serta “cengeng” ( tengkuk kaku) . Dia  merasa status kesehatannya prima/fit jika mempunyai tekanan darah 100/60 mmHg. Suatu aturan memang tidak bisa digeneralisir secara mutlak dan itulah sifat manusia tidak bisa menciptakan aturan yang benar-benar sempurna karena yang Maha Sempurna hanyalah Allah.

Mengkonsumsi suatu zat ke dalam tubuh haruslah “seimbang” ( tidak berlebihan dan tidak kekurangan sesuai dengan kebutuhan). Tidak ada suatu obat yang sempurna tanpa efek samping, tetapi yang ada adalah efek samping lebih minimal atau hampir tidak ada efek samping.  Bisa saja efek samping tersebut belum diketemukan saat ini karena keterbatasan ilmu manusia.

Jangankan suatu obat, kebutuhan yang masuk kategori vitamin atau sekedar makanan sehari haripun jika dikonsumsi berlebihan atau tidak sesuai kebutuhan akan mendatangkan efek samping. Vitamin  jika dikonsumsi secara berlebihan akan menimbulkan  hipervitaminosis, misal kelebihan vitamin C bisa menimbulkan diare dan seterusnya. Kelebihan makanan yang mengandung karbohidrat, lemak memunculkan  obesitas yang  kemudian muncul penyakit-penyakit ikutannya seperti jantung, hipertensi, kencing manis, dan lain-lain. Begitu juga jika kekurangan zat karbohidrat dan protein maka akan menderita gizi kurang bahkan bisa sampai gizi buruk .
Dalam kehidupan sehari - hari perilaku berlebihan atau terlalu kurang, masih banyak dilakukan  baik dalam keadaan sengaja ( karena mengikuti hawa nafsu ) ataupun tidak sengaja (keteledoran, atau memang tidak tahu ilmunya). Memang relatif “sulit” untuk menempatkann suatu yang berdiri di tengah-tengah sesuai dengan kebutuhan/porsi/takarannya.

Suatu ” aturan / standar ” bisa mengalami perubahan
Kebanyakan orang memandang bahwa sesuatu sudah tepat/sesuai takaranya jika sudah melihat hasilnya yang paling baik. Dan hasil terbaik itu biasanya  baru diketahui ke depan setelah melalui sekian proses/tahapan/penelitian (prospektif). Belum bisa kita mengatakan sesuatu itu aman sepenuhnya jika belum melalui uji empiris dilapangan. Sekali, dua kali, tiga kali dan sekian kali proses berjalan, baru didapatkan hasil yang paling baik, hingga kita bisa menyimpulkan inilah takaran yang paling pas. Dengan kata lain  untuk menilai sesuatu itu sudah tepat atau belum, sudah berdiri di pertengahan atau belum, sudah sesuai kebutuhan atau belum , memerlukan berulang ulang evaluasi terhadap suatu proses yang menuju arah perbaikan. Sehingga jangan terlalu mudah untuk menyalahkan suatu hasil, jika memang proses perbaikan masih selalu dilakukan. Karena dengan proses itulah yang akan menemukan hasil terbaik dari yang terbaik bukannya malah stagnan/berhenti dari proses tersebut, kemudian menyimpulkan ini  yang paling benar tanpa mau terus mengevaluasi. Karena kesimpulan hari ini bisa berubah karena perkembangan ilmu dan teknologi.

Yang menjadi lebih rumit lagi ternyata kadang hasil yang baik belum bisa disepakati sehingga takaran/porsi, apakah sudah sesuai atau belum menjadi berbeda untuk masing-masing orang yang memandang sesuai posisinya. Pandangan keberhasilan usaha/penelitian kadang juga menemui perbedaan karena terjadinya perbedaan indikator suatu keberhasilan. Suatu penggaris 30 an centimeter, maka yang benar posisi di tengah tengah adalah di angka 15 cm jika dilihat dari depan. Tetapi jika dilihat dari samping kiri kita maka posisi pertengahan seakan-akan bergeser ke arah kiri kita begitu juga sebaliknya jika yang memandang dari sebelah kanan kita, maka posisi tengah seakan-akan bergeser ke arah kanan dari pertengahan yang sesungguhnya. Tetapi jika kita sebagai seorang muslim maka segala persoalan harus kita pandang dari posisi kita sebagai umat pertengahan yang selalu berdiri didasarkan Al Quran dan Al hadist.

Kemanjuran dan kenyataan empiris ataupun pengalaman nyata sesuatu obat/ metode pengobatan  tidak otomatis menjadi bukti kebenarannya, boleh jadi itu merupakan ujian iman, istidraj (perangkap ALLAH melalui orang – orang yang dimurkainya melalui keberhasilan) atau bisa saja kesembuhan itu karena sugesti, obsesi dan ilusi pasien. Menurut Dr. Joseph Novak, salah satu anggota senior American Medical Association, peneliti senior di WHO, kita tidak akan pernah tahu apa yang sesungguhnya benar – benar terjadi pada tubuh kita.

Prinsip kesembuhan adalah barokah/rizki dari ALLAH. Manusia tidak bisa mengklaim sebagai orang yang menyembuhkan kecuali hanya sebagai perantara, dari suatu metode baik medis, alternatif, herbal, tradisional sampai dengan tibun nabawi. Semuanya pengobatan tersebut bukan merupakan jaminan kesembuhan, namun bagian  dari jalan ikhtiar sebelum bertawakal . Jika kesembuhan tak kunjung datang ,bukannya kesalahan  yang ditimpakan pada ayat atau hadist tersebut,  tetapi semata – mata karena keterbatasan kita dalam memahami dan mengaplikasikan petunjuk dalam ayat/hadist itu sepenuhnya.

Ditulis oleh dr. Dwi Anton BC

No comments:

Post a Comment