Wednesday, March 11, 2015

Hipoxia ( Kekurangan Oksigen ) pada Pendaki Gunung

Kegiatan yang dilakukan di alam terbuka tentunya lain dengan di dalam ruangan. Peralatan yang dipersiapkan tentunya akan lebih banyak. Apalagi jika kegiatan itu dilaksanakan di tempat tempat yang tidak biasa disinggahi orang, misal gunung, hutan, danau,laut dan lain-lain. Kali ini saya ingin mencoba menggali salah satu penyebab gangguan kesehatan yang SERING TERJADI di gunung hingga menyebabkan kecelakaan bahkan kematian. Yang terkenal kematian wakil menteri ESDM  Widjajono Partowidagdo yang diduga karena kekurangan oksigen.
Bagaimana karakter dataran tinggi gunung??
Gunung merupakan dataran tinggi yang melebihi ketinggian tanah rata-rata. Semakin tinggi suatu dataran maka akan semakin rendah kadar oksigen. Oleh karena itu seorang pendaki harus memperhatikan kemungkinan serangan hipoxia. Kenapa ini harus menjadi perhatian utama?? ? Karena pangkal gangguan kesehatan pokok dari suatu ketinggian adalah hipoxia.
Hipoxia merupakan keadaan dimana tubuh kekurangan pasokan oksigen. Hal ini bisa disebabkan karena kondisi alam yang memiliki kandungan oksigen yang minimal. Ditambah dengan aktifitas fisik yang berlebih sehingga memerlukan banyak oksigen untuk menyuplai kebutuhan tubuhnya. Jika konsumsi penggunaan oksigen lebih banyak daripada oksigen yang disediakan, maka tubuh akan mengalami kekurangan oksigen. Dalam istilah medis disebut hipoxia.  Lalu bagaimana tanda tanda hipoxia?
Jika anda merasakan tubuh menjadi lemas, mata berkunang-kunang, pandangan kabur, kemudian disertai frekuensi nafas mulai bertambah cepat dan tersengal-sengal maka segeralah berhenti dan istirahat. Kemungkinan anda mengalami hipoxia. Perasaan mual, pusing, kulit kebiruan, tidak nyaman, mengantuk /menguap, letih, lesi  baik fisisk maupun psikis juga dapat timbul pada orang hipoxia.
Frekuensi nafas meningkat merupakan respon tubuh untuk mengkompensasi kebutuhan oksigen dalam tubuh yang meningkat. Hipoxia yang tidak segera mendapatkan pertolongan bisa berakibat koma bahkan bisa terjadi kematian. Jika aklimatisasi (penyesuaian terhadap lingkungan baru) dan penanggulangannya dilakukan segera ,maka tubuh akan melakukan adaptasi dan kembali normal.
Lalu apa yang harus dilakukan untuk menolong orang yang terkena hopoxia???
1. Berikan tambahan oksigen dengan tabung oksigen portabel.  
2. Kendorkan pakaian (kerah baju, ikat pinggang, celana, bra bagi perempuan) sampai longgar sehingga bisa memperlancar asupan oksigen ke seluruh tubuh.
3. Bawa penderita ke tempat yang lebih rendah sehingga kadar oksigen yang didapatkan dari lingkungannya bertambah. Jika terlalu lama di tempat yang tinggi maka kerusakan organ akibat hipoxia akan semakin parah.
4. Jangan lanjutkan pendakian karena akan beresiko tinggi terhadap kesehatannya.

Salah satu langkah antisipasi adalah melakukan olahraga secara rutin sebelum melakukan pendakian. Hal ini untuk meningkatkan ketahanan fisik sehingga tidak mudah mengalami hypoxia.
Ingat ya ! Organ tubuh yang biasanya pertama mengalami hipoxia adalah otak. Sehingga sang pendaki akan mengalami gangguan konsentrasi sehingga akan mengganggu pengambilan keputusan. Misalnya lupa jalur pendakian sehingga akan mudah tersesat, lupa dengan peralatan pribadinya, tidak bisa mengkoordinasi atau mengikuti perintah pimpinan pendakian. Bahkan bisa saja dia tidak sadar kalau berada di tempat / jalan yang beresiko (misalnya jurang). Lebih berbahaya lagi jika hal ini mengakibatkan kurangnya kontrol terhadap gerakan motorik sehingga akan mengakibatkan kecelakaan. Banyak para pendaki mengalami kecelakaan akibat hipoxia bahkan sampai berakibat kematian.
Hipoxia juga sangat berbahaya terhadap jantung. Respon pertama dari jantung akan menaikkan frekuensi detak jantung untuk menkompensasi kebutuhan oksigen. Jika berlanjut akan mengakibatkan kematian otot jantung.  Sekian dulu sharing dari saya mudah mudahan bisa bermanfaat sebagai persiapan sebelum aktifitas di gunung. Lain kali kita lanjutkan lagi .......bersambung

Tuesday, March 10, 2015

Terlalu Semangat Malah Tambah Gawat

Kegiatan aktivitas fisik yang tanpa pengetahuan dan perhitungan kadang-kadang justru akan menjerumuskan kita dalam hal–hal yang lebih merugikan kondisi fisik kita sendiri. Ketidakmampuan untuk mengenal dan mendeteksi secara dini resiko-resiko kecelakaan dari jenis kegiatan yang akan kita kerjakan, akan membuat kita lebih “sembrono” dalam melakukannya apalagi ditambah tanpa mengetahui teknik yang benar.
Masing masing jenis kegiatan, akan mempunyai hal-hal yang harus diwaspadai sebagai akibat dari kegiatan itu, misalnya untuk sepakbola biasanya terjadi terkilir, dislokasi sampai patah tulang, untuk renang mungkin terjadi kram kaki atau perut , badminton terkena “suttle kok” bagian mata dan lain sebagainya.
            Pola kompetisi yang muncul dalam suasana kegiatan fisik secara bersamaan biasanya memacu semangat yang lebih bahkan sampai berlebihan sehingga tidak memperhitungkan batas kemampuan fisiknya. Organ-organ tubuh “dipaksa” bekerja melampaui batas untuk memenuhi target atau kemenangan, dilakukan secara mendadak tanpa tahapan atau pemanasan. Dan hal inilah yang justru berbahaya apalagi jika si pelaku sudah mempunyai riwayat kesehatan yang terganggu misal penyakit darah tinggi, jantung, riwayat trauma sebelumnya.
Berikut ini merupkan pengobatan cidera pada olahraga yang dibagi menjadi 4 tahap
1. RICE Segera setelah cidera (0-24 jam s/d 36 jam)
Rest                   : Diistirahatkan bagian yang mengalami cidera
Ice                   : Kompres dingin bagian yang cidera untuk mengurangi perdarahan, pembengkakan, dan rasa sakit.
Compression   : Balut tekan pada daerah cidera untuk mengurangi pembengkakan dan membatasi pergerakan tetapi tidak boleh terlalu kencang agar jaringan di bawahnya tidak mati.
Elevation         : mengangkat bagian cidera lebih tinggi dari jantung untuk mengurangi aliran darah ke tempat cidera sehingga berkurang perdarahan dan pembengkakan.
2. Setelah cidera 24 s/d 36 jam
Pemberian kompres panas ( heat treatment ) dengan interval 20-30 menit akan memasukan kembali cairan plasma darah (penyebab bengkak) yang keluar masuk kembali ke dalam pembuluh darah balik vena dan limfe. Ingat jangan berikan kompres panas setelah cidera karena akan memperburuk cidera.
3. Jika bagian cidera dapat digunakan dan hampir normal
            Membiasakan melatih organ yang cidera tanpa mempergunakan alat bantu dari otot-otot dan sendi di sekitar cidera, dimulai dari gerakan pasif (gerakan yang masih dibantu oleh kekuatan dari luar) kemudian gerakan aktif (gerakan yang ditimbulkan oleh kekuatan otot yang cidera itu sendiri). Pada saat ini massage/pijatan ringan masih bisa diberikan.
4. Jika bagian cidera sudah sembuh maka latihan dapat dimulai kembali.
            Bagian bekas cidera dapat dipersiapkan untuk tekanan-tekanan, tarikan-tarikan yang sesuai dengan jenis  gerakan pada olah raga yang dilakukan. Selamat menerapkan dan jangan keliru yaa!!!!

Ditulis dr Abu farras