Thursday, May 14, 2015

Tips Memilih dan Menyajikan Teh yang Sehat

PERNAHKAH Anda mencicipi teh terbaik dari bumi Indonesia? Sungguh ironis, teh terbaik dari Bumi Pertiwi justru tak banyak beredar di pasar lokal. Masa kolonial telah lama berlalu, tetapi ”penjajahan” teh masih berlanjut hingga sekarang. Ini adalah sebuah potongan artikel yang saya temukan di situs perkebunan Nusantara VIII.  Artikel yang sama persis juga saya temukan pada situs kompas.com. Perasaan saya sebagai masyarakat awam mulai teriris saat membaca paragraf pertama.  Saya lanjutkan  membaca keseluruhan artikel tersebut. 

Saya berkesimpulan bahwa teh yang beredar di  pasar lokal Nusantara ini adalah teh yang secara kualitas bisa dikatakan rendah.  Mungkin dengan bahasa yang kurang menyenangkan adalah teh KW.  Lalu kemana teh yang kelas premium ?

Saya mendapat jawaban dari seorang teman alumnus IPB yang mengambil jurusan teknologi pertanian.  Saat ini beliau bergerak dalam sebuah produksi teh yang bermafaat untuk kesehatan. Latar belakang beliau berasal dari keluarga BUMN sebuah perkebunan.  Jadi memang benar – benar mengetahui seluk beluk seputar teh yang ada.

Menurut  Iwan Benny, STP.  Teh yang berkualitas itu berasal dari pucuk teh . Yang terbaik adalah pucuk 1,2 dan 3 yang disebut peko. Pucuk yang dibawahnya lagi disebut pucuk burung.  Pucuk paling atas inilah yang kaya dengan senyawa katekin. Teknik memetiknyapun juga khusus.

Lalu kalo saat minum teh , kadang kita tersangkut batangnya , itu bagaimana?  Nach, itu dia  Bu. Teh yang beredar di masyarakat kita itu sesuai dengan namanya adalah teh rakyat. Cara memetiknyapun juga teknik massal.  Sampai – sampai batang tehnya pun ikut diambil.

Dari sini mulai berpikir lalu seperti apa teh yang dikatakan berkualitas dan kaya manfaat seperti yang ada pada artikel sehat dengan minum teh .

Iwan kembali melanjutkan, teh yang baik adalah yang berasal dari pucuk daun. Bisa kita lihat saat sudah menjadi teh yang dikeringkan. Benar – benar daun teh tanpa batangnya.

Kebetulan saya pernah dibawakan sebuah black tea yang menjadi bahan baku dari Raissa Collagen tea produksi  Raissa beauty. Lalu saya bandingkan dengan teh yang saya miliki dirumah. Ternyata jauh berbeda.

Jika membeli teh hindari teh dengan aroma macam – macam. Karena menurut Iwan, teh Indonesia secara aroma memang kalah dengan teh dari jepang dan Cina. Akan tetapi teh Indonesia lebih unggul di kandungan katekinnya. Semua aroma asli dari teh itu sifatnya volatile , mudah menguap. Jadi kalo menemukan teh dengan bau yang sangat harum , justru hati – hati. Bisa jadi ada penambahan aroma sintetis. Selain itu pilih teh yang tidak menggunakan rasa yang macam – macam . Seperti duren, strawbery atau rasa – rasa yang lain. Karena pasti ada penambahan essen rasa didalam teh tersebut.

Untuk keluarga Iwan lebih menyarankan untuk membeli teh “ sampah” dibanding teh celup. Katanya itu jauh  relatif lebih baik dibanding  bentuk celup. Teh “ sampah” ini kalau istilah orang jawa sering menyebut teh kothok. Biasanya teh ini memang penggemarnya orang tempo dulu dan kebanyakan orang – orang tua. Jika membuat teh dari teh kothok ini harus direndam terlebih dahulu. Jadi sedikit memerlukan waktu dibanding dengan teh celup.  Rata – rata teh kothok juga membutuhkan air dengan suhu yang lebih panas dibanding teh celup untuk mendapatkan rasa teh yang mantap. Karena dianggap ribet orang modern jarang yang menyukainya. Teh celup lebih dipilih karena praktis serta pilihan rasanyapun lebih banyak.

Cara menyeduhpun ada teknik khusus menurut pak iwan. Untuk teh “ sampah “ ini beri air sedikit lalu buang airnya. Tujuannya adalah untuk membuang kotoran – kotoran dan debu. Setelah itu baru tambahkan air sesuai selera. Dan siap untuk menikmati secangkir teh yang sehat dan mantap.

Lalu apakah teh yang selama ini kita konsumsi sudah benar – benar sehat ? Sekarang Anda sudah tahu jawabannya dan sudah menemukan teh yang sehat.







No comments:

Post a Comment